Tips Merawat Anggrek

Daripada bosan, bingung mo ngapain….paling asyik emang, ngerawat flora kesayangan. Sesuai daerah asalku yang di dataran tinggi atau lebih afdol disebut “Arek Nggunung” (baca anak yang berasal dari daerah pegunungan), dapat di pastikan kalo aku sedikit tertarik terhadap jenis tumbuhan yang berspecies Bunga-bungaan terutama Orchid (Anggrek), alasannya simpel…. Depan Rumahku yang di kampung tuh, adalah tempat budidaya Anggrek, yang pengelolanya dah Generasi Kedua. Kalo ngga salah inget Nama tempat itu “Atmo Kolopaking Orchid”, dan lumayan sering meramaikan stand Pameran Anggrek Tingkat Nasional.

Balik lagi ke urusan rawat merawat, ini aku mau bagi-bagi Tips Merawat Anggrek, simak baik-baik yah…:

http://bunga-setiamitra.com/Gallery/bunga-anggrek-bulan%20pot.jpg

1. Lokasi, suhu, dan kelembaban:
Anggrek akan tumbuh baik di dataran tinggi, bukan berarti di dataran rendah tidak bisa hidup akan tetapi harus memenuhi ketentuan yang tepat. Suhu udara berkisar 15ºC-35ºC (suhu optimum 21ºC) dengan sirkulasi udara yang baik. Kelembaban udara berkisar antara 65%-70%.

2. Cahaya Matahari:Tanaman anggrek pantang kena sinar matahari langsung, akan tetapi masih toleran terhadap sinar matahari pagi antara jam 7-9 pagi. Anggrek yang kurang mendapat cahaya matahari tumbuh kurus, berdaun sempit dan panjang, sebaliknya jika kelebihan daun akan menguning seperti terbakar. Anggrek akan tumbuh baik jika digantung di bawah kerimbunan pohon.

3. Penyiraman:
Tidak ada patokan tepat untuk menyiram anggrek, cara praktis untuk mengetahui apakah tanaman sudah perlu disiram dengan memantau kondisi media tanamnya. Penyiraman sebaiknya dengan sprayer dan air yang digunakan bebas kaporit dan senyawa kimia lain. Anggrek muda lebih membutuhkan banyak air, penyiraman sebaiknya sehari sekali. Untuk anggrek yang lebih besar 2 hari sekali cukup memadai. Terlalu banyak air akan membuat anggrek mudah diserang jamur yang menyebabkan daun dan akar membusuk. Bunga anggrek sebaiknya jangan terkena air, karena akan cepat rontok.

4. Pemupukan:
Anggrek perlu dipupuk untuk membuatnya rajin berbunga.
Tips untuk memilih pupuk yang tepat:
- Pilih pupuk cair (pupuk daun)
- Unsur makro NPK harus disesuaikan dengan usia tanaman:
anggrek muda memerlukan unsur N (Nitrogen) lebih banyak
anggrek siap berbunga memerlukan unsur P (Phospor) lebih banyak
- pemupukan dilakukan seminggu sekali dengan dosis 1/2 sdt untuk 1 liter air
- semprotkan larutan pupuk dengan sprayer pada bagian daun dan akar
- pemupukan bisa dilakukan lebih sering, dengan mengurangi dosis.

5. Media Tanam:
Media tanam yang baik adalah yang tidak cepat lapuk, memudahkan akar menempel, berongga (porous) untuk sirkulasi udara, dapat menyimpan zat hara, dan tidak mudah menjadi sumber penyakit. Macam media adalah pakis, moss, sabut kelapa, arang kayu, pecahan batu bata atau genteng.

6. Pot:
Untuk pot bisa dipilih pot tanah atau plastik, pot tanah bisa menyimpan air sedangkan pot plastik tidak, untuk menambah nilai estetis bisa digunakan pot plastik yang dibuat berlubang pada sisinya. Anggrek juga bagus ditanam di blok pakis dan digantun di bawah pohon. Secara berkala sebaiknya dilakukan repotting misalnya 6 bulan sekali untuk memberi ruang lebih pada akar anggrek.

Posted in Reference | Tagged , , , | 1 Comment

Lirik Menggelitik Thufail Al Ghifari

Jauh dari maksud kooptasi atau kegiatan sejenisnya, dari satu forum aku menemukan Lirik “Beliau” yang sangat menggelitik untuk menjadikan pencerahan, mungkin bisa jadi dengan pilihan kata yang terbuka jauh dari kesan ataupun aksentuasi yang bersifat sarkasme, kita jauh lebih jeli dalam menangkap maksud sang empu-nya “lirik”, selamat menikmati bait-baitnya:

Ketika fundamental adalah teroris
dan demokrasi berorasi dalam alunan kata rangkaian Iblis
Sumpah serapah untaian kata prajurit liberalis
syair demokrasi pemecah belah

Propaganda mata-mata logika yang dustakan nilai akidah
neraka tipu daya pluralisme agama
dari teluk Ambalat hingga fenomena Syi’ah versus Sunni di iraq
terdesak dari pertikaian bidak catur yang buta terkuak
membakar initisari ukhuwah di atas ego golongan
pukul rata keluguan umat layaknya seribu ahli syurga

maka bersuka citalah penemu benua amerika
ketika pengunjung ka’bah tak sajikan suara atas darah di Palestina
restu dari misteri militansi Taliban
sempurna dalam kerapuhan mata-mata ketaqwaan
ketika kapitalisme begitu manjur bersahabat dengan ketupat lebaran
dan Islam membunuh Islam menjadi pahala
merenkarnasi ala sandi liang lahat slogan kekhalifahan
perderu batas propanganda dakwah palsu
berdiri diantara kesombongan rohani terrbalut hawa nafsu
pemuja wajah arsitektur media kekafiran
ketika argumentasi mentahkan cerita para salafusshaleh
dan serumpun jihad harus terpecah belah
untuk satu alasan serupa
ketika semua merasa yang paling ahlusunnah wal jama’ah

Berapa lagi umur umat Islam…

Hermeneutika dari omong kosong logika absurd kaum orientalis
pudarkan mantel definisi jelaga retoris
menggubris sandi alam dajjal penghinat historis
membackup batas individualis teorikal para badut Zionis

untuk setiap molotov dari setiap botol Cocacola
dan McDonal jadi 100% halal bersenggama
berduet bersama Marlboro dan tafsir al Azhar
berceritalah para anekdot ateis
dalam kedangkalan akidah syeikh siti djenar
dari catatan putih para penghianat tauhid
untuk para pembual…
yang ikut membantai saudara Islam kami di seluruh dunia
Mengubah jenin menjadi diskotik baru berlabel anti terorisme global
berduet bersama Ariel Sharon dan pemikiran liberal

bumbu paling menyedihkan dari fenomena bir bintang 0% alkohol
dan senyawa paramadina telah cukup membuat islam menjadi tolol
sengketa tanah dan minyak bumi
batu bara membara membantai sesama
propaganda atas umat yang tak bersalah

saat islam membunuh islam tak lagi menjadi prahara
dan setiap kuffar lebih penting menjadi saudara
menyayat duka setiap tetes mata aroma Intifadha
lupakanlah Che Guevara dan syair Faghiutan Bolivia
ketika revolusi berarti demokrasi dan sex bebas
membusuk bersama argumentasi Islam kiri
episode paling mutahir salah kaprah

Berapa lama lagi umur umat Islam..

hitunglah umur umat Islam ketika langit menghitam
di ruang hukum yang tak perlu lagi merajam
terlupakanlah Dzat yang tiupkan ruh di dalam rahim
fotosintesa dari budaya pendusta agama Ibrahim

saat al Qur’an hanya pengantar debu hiasan rumahmu
dari zaman kedzaliman yang asingkan setiap puing kemurnian Islam
ketika teroris berarti mushola dan penjaga tauhid
maka demokrasi mengambil tempat bersama selinting ganja dan Jack Daniel
panorama pembakar batas hewan dan manusia
cakrawala tahajud yang tak sanggup lagi bersujud
Pada dimensi ketika poligami berarti neraka
dan prostitusi menjadi hal asasi
ketika kondom fiesta menjadi solusi norma
menjamu kapitalisme dalam retorika syariat
raga dari propaganda Ibnu arabi
lebih busuk dari pembenaran murtad ala Nafa Urbach
dan konsensus hak cipta sukses racuni anak bangsa
dan memasang jaring konsumerisme dan idiom profesionalisme
ketika nasyid sudah tidak berbeda lagi dengan Back Streetboys
dan Dewa 19 ternyata lebih harokah dari syair Fagih Fallujah
senjata paradigma paling ironis
sejak peringatan bahaya merokok ada di setiap bungkus rokok
dan MUI belum juga mengerti bahwa hak cipta adalah milik Allah,
membakar umat sekaligus membela selangkangan Bill Gates

Posted in Reference | Leave a comment

POST PARTUM BLUES

Buku kami

Kehamilan merupakan episode dramatis terhadap kondisi biologis, perubahan psikologis dan adaptasi dari seorang wanita yang pernah mengalaminya. Sebagian besar kaum wanita menganggap bahwa kehamilan adalah peristiwa kodrati yang harus dilalui tetapi sebagian wanita mengganggap sebagai peristiwa khusus yang sangat menentukan kehidupan selanjutnya.

Perubahan fisik dan emisional yang kompleks, memerlukan adaptasi terhadap penyesuaian pola hidup dengan proses kehamilan yang terjadi. Konflik antara keinginan prokreasi, kebanggaan yang ditumbuhkan dari norma-norma sosial cultural dan persoalan dalam kehamilan itu sendiri dapat merupakan pencetus berbagai reaksi psikologis, mulai dari reaksi emosional ringan hingga ke tingkat gangguan jiwa yang berat.

Beberapa penyesuaian dibutuhkan oleh wanita dalam menghadapi aktivitas dan peran barunya sebagai ibu pada minggu-minggu atau bulan-bulan pertama setelah melahirkan, baik dari segi fisik maupun segi psikologis. Sebagian wanita berhasil menyesuaikan diri dengan baik, tetapi sebagian lainnya tidak berhasil menyesuaikan diri dan mengalami gangguan-gangguan psikologis dengan berbagai gejala atau sindroma yang oleh para peneliti dan klinisi disebut post-partum blues .

post-partum blues sendiri sudah dikenal sejak lama. Savage pada tahun 1875 telah menulis referensi di literature kedokteran mengenai suatu keadaan disforia ringan pasca-salin yang disebut sebagai ‘milk fever ‘ karena gejala disforia tersebut muncul bersamaan dengan laktasi. Dewasa ini, post-partum blues (PPB) atau sering juga disebut maternity blues atau baby blues dimengerti sebagai suatu sindroma gangguan afek ringan yang sering tampak dalam minggu pertama setelah persalinan, dan ditandai dengan gejala-gejala seperti : reaksi depresi /sedih/disforia, menangis , mudah tersinggung (iritabilitas), cemas, labilitas perasaan, cenderung menyalahkan diri sendiri, gangguan tidur dan gangguan nafsu makan. Gejala-gejala ini mulai muncul setelah persalinan dan pada umumnya akan menghilang dalam waktu antara beberapa jam sampai beberapa hari. Namun pada beberapa minggu atau bulan kemudian, bahkan dapat berkembang menjadi keadaan yang lebih berat.

post-partum blues ini dikategorikan sebagai sindroma gangguan mental yang ringan oleh sebab itu sering tidak dipedulikan sehingga tidak terdiagnosis dan tidak ditatalaksanai sebagaimana seharusnya, akhirnya dapat menjadi masalah yang menyulitkan, tidak menyenangkan dan dapat membuat perasaan perasaan tidak nyaman bagi wanita yang mengalaminya, dan bahkan kadang-kadang gangguan ini dapat berkembang menjadi keadaan yang lebih berat yaitu depresi dan psikosis pasca-salin, yang mempunyai dampak lebih buruk, terutama dalam masalah hubungan perkawinan dengan suami dan perkembangan anaknya.

Dalam dekade terakhir ini, banyak peneliti dan klinisi yang memberi perhatian khusus pada gejala psikologis yang menyertai seorang wanita pasca salin, dan telah melaporkan beberapa angka kejadian dan berbagai faktor yang diduga mempunyai kaitan dengan gejala-gejala tersebut. Berbagai studi mengenai post-partum blues di luar negeri melaporkan angka kejadian yang cukup tinggi dan sangat bervariasi antara 26-85%, yang kemungkinan disebabkan karena adanya perbedaan populasi dan kriteria diagnosis yang digunakan.

Banyak faktor diduga berperan pada sindroma ini, antara lain adalah: 1) Faktor hormonal, berupa perubahan kadar estrogen, progesteron, prolaktin dan estriol yang terlalu rendah atau terlalu tinggi. Kadar estrogen turun secara bermakna setelah melahirkan, ternyata estrogen memiliki efek supresi aktifitas enzim monoamine oksidase. Yaitu suatu enzim otak yang bekerja menginaktifasi baik noradrenalin maupun serotonin yang berperan dalam suasana hati dan kejadian depresi; 2) Faktor demografik yaitu umur dan paritas; 3) Pengalaman dalam proses kehamilan dan persalinan; 4) Latar belakang psikososial wanita yang bersangkutan, seperti; tingkat pendidikan, status perkawinan, kehamilan yang tidak diinginkan, riwayat gangguan kejiwaan sebelumnya, sosial ekonomi serta keadekuatan dukungan sosial dari lingkungannya (suami, keluarga dan teman). Apakah suami menginginkan juga kehamilan ini, apakah suami, keluarga, dan teman memberi dukungan moril (misalnya dengan membantu pekerjaan rumah tangga, atau berperan sebagai tempat ibu mengadu/berkeluh-kesah) selama ibu menjalani masa kehamilannya.

Di luar negeri skrining untuk mendeteksi gangguan mood / depresi sudah merupakan acuan pelayanan pasca salin yang rutin dilakukan. Untuk skrining ini dapat dipergunakan beberapa kuesioner dengan sebagai alat bantu. Endinburgh Posnatal Depression Scale (EPDS) merupakan kuesioner dengan validitas yang teruji yang dapat mengukur intensitas perubahan perasaan depresi selama 7 hari pasca salin. Pertanyaan-pertanyaannya berhubungan dengan labilitas perasaan, kecemasan, perasaan bersalah serta mencakup hal-hal lain yang terdapat pada post-partum blues . Kuesioner ini terdiri dari 10 (sepuluh) pertanyaan, di mana setiap pertanyaan memiliki 4 (empat) pilihan jawaban yang mempunyai nilai skor dan harus dipilih satu sesuai dengan gradasi perasaan yang dirasakan ibu pasca salin saat itu. Pertanyaan harus dijawab sendiri oleh ibu dan rata-rata dapat diselesaikan dalam waktu 5 menit. Cox et. Al., mendapati bahwa nilai skoring lebih besar dari 12 (dua belas) memiliki sensitifitas 86% dan nilai prediksi positif 73% untuk mendiagnosis kejadian post-partum blues . EPDS juga telah teruji validitasnya di beberapa negara seperti Belanda, Swedia, Australia, Italia, dan Indonesia. EPDS dapat dipergunakan dalam minggu pertama pasca salin dan bila hasilnya meragukan dapat diulangi pengisiannya 2 (dua) minggu kemudian.

Post-partum blues atau gangguan mental pasca-salin seringkali terabaikan dan tidak ditangani dengan baik. Banyak ibu yang ‘ berjuang ‘ sendiri dalam beberapa saat setelah melahirkan. Mereka merasakan ada suatu hal yang salah namun mereka sendiri tidak benar-benar mengetahui apa yang sedang terjadi. Apabila mereka pergi mengunjungi dokter atau sumber-sumber lainnya

Untuk minta pertolongan, seringkali hanya mendapatkan saran untuk beristirahat atau tidur lebih banyak, tidak gelisah, minum obat atau berhenti mengasihani diri sendiri dan mulai merasa gembira menyambut kedatangan bayi yang mereka cintai.

Penanganan gangguan mental pasca-salin pada prinsipnya tidak berbeda dengan penanganan gangguan mental pada momen-momen lainya. Para ibu yang mengalami post-partum blues membutuhkan pertolongan yang sesungguhnya. Para ibu ini membutuhkan dukungan pertolongan yang sesungguhnya. Para ibu ini membutuhkan dukungan psikologis seperti juga kebutuhan fisik lainnya yang harus juga dipenuhi. Mereka membutuhkan kesempatan untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan mereka dari situasi yang menakutkan. Mungkin juga mereka membutuhkan pengobatan dan/atau istirahat, dan seringkali akan merasa gembira mendapat pertolongan yang praktis. Dengan bantuan dari teman dan keluarga, mereka mungkin perlu untuk mengatur atau menata kembali kegiatan rutin sehari-hari, atau mungkin menghilangkan beberapa kegiatan, disesuaikan dengan konsep mereka tentang keibuan dan perawatan bayi. Bila memang diperlukan, dapat diberikan pertolongan dari para ahli, misalnya dari seorang psikolog atau konselor yang berpengalaman dalam bidang tersebut.

Para ahli obstetri memegang peranan penting untuk mempersiapkan para wanita untuk kemungkinan terjadinya gangguan mental pasca-salin dan segera memberikan penanganan yang tepat bila terjadi gangguan tersebut, bahkan merujuk para ahli psikologi/konseling bila memang diperlukan. Dukungan yang memadai dari para petugas obstetri, yaitu: dokter dan bidan/perawat sangat diperlukan, misalnya dengan cara memberikan informasi yang memadai/adekuat tentang proses kehamilan dan persalinan, termasuk penyulit-penyulit yang mungkin timbul dalam masa-masa tersebut serta penanganannya.

Dibutuhkan pendekatan menyeluruh/holistik dalam penanganan para ibu yang mengalami post-partum blues . Pengobatan medis, konseling emosional, bantuan-bantuan praktis dan pemahaman secara intelektual tentang pengalaman dan harapan-harapan mereka mungkin pada saat-saat tertentu. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa dibutuhkan penanganan di tingkat perilaku, emosional, intelektual, sosial dan psikologis secara bersama-sama, dengan melibatkan lingkungannya, yaitu: suami, keluarga dan juga teman dekatnya.

Posted in Reference | 2 Comments

We are Expecting

New Baby Myspace Comments

Semoga lancar2 selalu ampe proses kelahiran ntar….

Apapun yang aku alami saat ini, morning sickness, tiba2 pusing ato apalah…itu bagian dari fase yang harus dilewatin, aku anggap aja..itu smua sebagai bentuk proses perkenalan janin denganku, biar lebih dekat secara emosional, kadang lucu jg sih…..

Ketika aku lagi enak2 ngobrol, dan lagi serunya atau lagi debat sekalipun….tiba2 aku mual dan dalam istilah jawa biasa disebut “mlukok”…Nah tuh artinya si janinku pengen diperhatikan juga, aku sadar betul sih…pas waktu aku lg asyik ngobrol ato segala bentuk pembicaraan,kadang suka lupa klo lg ada janin ato hamil(maksudnya saking asyiknya..tp bukan berarti ceroboh).

Itu artinya masukan bagus sih buat aku….artinya 3 bulan pertama masa kehamilan, ngga harus jadi momok buat ibu2 yg baru memasuki kehamilan. Dan kedekatan dengan janin dari sejak usia kehamilan dini, mang perlu, ya sedikit banyak lebih tau polanya lah…baik itu pergerakan, pertumbuhan dan hal2 yang tak terverbalkan lainnya….

Dan semoga diberikan sehat wal afiat dan kelancaran Amien…..

Terimaksih banyak……Ya Gusti Allah…..

Dan mohon doanya …dari semua teman2…

thanks b4…

Posted in Story | 3 Comments

Aktivis Mendadak Caleg…

Setelah aku beberapa saat sempat membaca lansiran berita tentang beberapa nama caleg dari sejumlah partai yang lolos verifikasi KPU, aku sempat tersentak tapi tak begitu lama sih…! dan lanjut concern siapa-siapa aja yang masuk dalam list Menuju ke Kursi Legislatif tersebut.

Tersebutlah beberapa nama Desmon Junaidi Mahesa (korban penculikan 10 tahun lalu dan kini menjadi pengacara profesional Eka Cipta Wijaya dan Tommy Winata), dijadikan Caleg untuk Dapil Kalimantan Timur dari partai Gerindra, kemudian Pius Lustrilanang (korban penculikan aktivis pro demokrasi 1997/1998, yang saat ini dia membentuk organisasi para militer BRIGASS: Brigade Siaga Satu) dia menjadi Caleg untuk Dapil Nusa Tenggara Timur dari Partai Gerindra juga (sebuah partai yang dimotori Prabowo Subianto dan Muchdi PR). Dita Indah Sari (aktivis serikat buruh) yang menjadi Caleg untuk  daerah Jawa Tengah V Boyolali-Solo dari Partai Bintang Reformasi.

Langkah mereka seolah ingin mengikuti jejak rekan-rekannya yang sudah lebih dahulu mencicipi kursi parlemen dan menjadi anggota partai, seperti Anis Matta (Partai Keadilan Sejahtera) dan Nusron Wahid (Partai Golkar).Budiman Sujatmiko(PDI-P), Andi Arief (Partai Demokrat).

”Saya masuk politik praktis, dalam hal ini parpol, karena untuk menciptakan perubahan yang nyata dibutuhkan kekuatan politik. Jika dahulu saya berjuang lewat demonstrasi, sekarang semoga dapat melalui DPR,” (Budiman Sujatmiko).

Pendapat hampir senada disampaikan Sekretaris Jenderal Perhimpunan Nasional Aktivis 98 (Pena 98) Adian Napitupulu. ”Salah satu rekomendasi Pertemuan Nasional Pena 98 pada Juni 2007 adalah berusaha masuk ke ruang politik legal untuk memastikan ada perubahan seperti yang diharapkan. Sebab, setelah direfleksikan, gerakan kami selama ini punya satu kekurangan, yaitu kami tidak punya kemampuan untuk melaksanakan kebijakan. Kami mencoba mengatasi masalah itu dengan masuk ke parlemen,” kata Adian. Sebagai bagian dari pelaksanaan rekomendasi tersebut, lanjut Adian, sebagian anggota Pena 98 sekarang tersebar menjadi caleg di 23 provinsi, baik untuk tingkat pusat maupun provinsi, dengan berbagai nomor urut dan partai politik.

Pius Lustrilanang, salah satu korban selamat dari penculikan aktivis 1997-1998, juga memutuskan masuk daftar caleg dari Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) karena berpandangan, pelaksanaan perubahan membutuhkan kekuatan politik. Saat disinggung bukankah anggota Gerindra antara lain Prabowo Subianto dan Muchdi Pr, dua mantan perwira tinggi TNI yang harus melepaskan jabatannya karena diduga ikut bertanggung jawab dalam kasus penculikan aktivis 1997-1998, Pius menjawab, ”Dalam politik tidak ada kawan atau lawan abadi. Selain itu, keterlibatan mereka dalam kasus itu sudah selesai secara hukum.”
Bahkan, lanjut Pius, bergabungnya dia di Gerindra sebagai bagian dari upaya rekonsiliasi nasional, yang merupakan salah satu modal penting yang dibutuhkan Indonesia untuk maju. ”Mereka yang mengaku reformis sekarang sikapnya juga banyak yang sama dengan Orde Baru, keras kepala dan otoriter. Jadi, akhirnya semua tergantung orangnya, dengan komitmennya,” tegasnya. Sebelum bergabung dengan Gerindra, Pius pernah menjadi anggota PDI-P dan Partai Demokrasi Pembaruan, serta mendirikan Partai Persatuan Nasional.

Apa pun alasan atau pertimbangannya, dalam alam demokrasi seperti sekarang sah-sah saja para mantan aktivis itu terjun ke politik praktis. Itu adalah bagian dari hak politik mereka sebagai warga negara. Keputusan mereka terjun menjadi caleg ini pun dinilai penting bagi kaderisasi kepemimpinan nasional.
Dalam sistem politik yang terbuka seperti saat ini, perbaikan kehidupan berbangsa tidak cukup dilakukan dengan berteriak-teriak, memberikan koreksi dari luar sistem. Dibutuhkan sejumlah orang baik dan berkualitas untuk masuk ke dalam sistem guna memperbaiki dari dalam. Bahkan, kebangkitan Indonesia diyakini akan lebih cepat terjadi jika ada jaringan kerja dan komunikasi yang intensif antara mereka yang berada di dalam dan luar sistem. Namun, di sisi lain, masuknya para aktivis yang rekam jejaknya masih relatif bersih dan muda ini dalam daftar caleg juga menguntungkan parpol pengusungnya. Para aktivis itu dapat ”menutup” sejumlah catatan buruk parpol di masa lalu. Bahkan, parpol itu dapat dinilai ”reformis” atau menjanjikan perubahan. Citra itu tentu dibutuhkan untuk menambah perolehan suara di Pemilu 2009.
Keberadaan para mantan aktivis itu juga akan menambah posisi tawar parpol yang bersangkutan ketika kelak harus membangun koalisi atau bekerja sama dengan kekuatan politik lain.

Disamping itu juga Caleg Aktivis Lebih Baik daripada Artis karena mereka itu relatif bersih dan terjun langsung ke lapangan jadi sudah berpengalaman bersentuhan dengan masyarakat. Apabila dibandingkan dengan Caleg para selebritas bisa dilihat saja dampak bagi rakyat, bila input-nya instan sangat mungkin output-nya akan bermasalah. Tanpa proses inisiasi melalui pengkaderan yang cukup untuk masuk medan politik, bisa jadi para pesohor tersebut tetap akan menjadi pajangan ketika duduk sebagai anggota Dewan. Hingga kini pun kita sulit mengukur kinerja para artis yang duduk di Dewan. Apakah, misalnya mereka pernah bersuara atau tidak dalam rapat-rapat di DPR.

Akhirnya, kelak waktu yang akan menjelaskan alasan utama dan sebenarnya dari bergabungnya para mantan aktivis itu menjadi caleg. Apakah sungguh karena alasan taktis, yaitu untuk mengefektifkan perjuangan membangun Indonesia yang lebih baik? Atau hanya karena alasan pragmatis, yaitu karena tidak tahan untuk mencoba menikmati manisnya madu kekuasaan? Atau, bisa juga hanya bagian dari upaya pemenuhan hasrat petualangan belaka. Yang jelas, aktivis 1966, Soe Hok Gie, pernah menyayangkan sikap sebagian temannya yang mulai melupakan komitmennya karena terlalu menikmati nyamannya naik sedan Holden.

Semoga realitas itu tidak kembali terulang …..

Posted in Opiniku | Tagged | 3 Comments

Ngabuburit at f1rst Day Puasa Ramadhanku di Benhil

Jam di meja kerjaku dah nunjukin jam 15.00 WIB, waktunya ngacir nih…! Operator kantor dah announcement bila jam kantor berakhir di jam tersebut. So, aku kepikiran kalo belon nyiapin takjil buat menu buka puasa untuk aku berdua, bersama suami. Selintas langsung tertuju pada atmosfer kemeriahan ngabuburit di Bendungan Hilir (Benhil). Dan ga pake mikir ini itu lagi, aku langsung bergegas ke kawasan itu.

Setelah aku nebeng mas danil ampe di hotel Millenium Kebon Sirih, aku langsung nyambung pake bis dan meluncur ke Benhil. Berangkat dari kantor jam 15.00 dan nyampe sana sekitar 15.35 karena Thamrin dan Sudirman sudah mulai “pamer”(padat merayap), waduh….bisa lama nih!!!tapi yo untung keburu juga sih…

Setelah turun di halte bis dan jalan dikit sekitar 200 m lah dari lokasi, dan emang asyik banget sih…betapa yang kuliat, serasa pengen dibeli semua, tapi ya untungnya rasioku tetep jalan. Karena mubadzir kan kalo banyak yang dibeli tanpa menghitung berapa orang yang harus mengkonsumsinya.

Awalnya aku berniat untuk keliling, agar tahu menu takjilan apa saja yang dijual di Bazar Ramadhan Benhil tersebut, tapi aku tiba-tiba terhenti ketika melihat lapak kue-kue basah,”asyik nih” kalo disantap untuk batalin puasa sebelum masuk ke hidangan utama, ya itung-itung “Appertizer For Fasting Break” lah, maka segera beli Risolles, Lumpia Kering, Dadar Gulung, dan Heci Udang, nyam-nyam banget…!

 Dan menu takjil yang mengandung air (traditional beverage) aku beli bubur sumsum+gula jawa, dan jenang gendul dari beras ketan+santan yang dicampur gula jawa.

Sesampai dirumah langsung aku dinginkan di lemari es, dan aku siap-siap memasak untuk hidangan utama dan menu makan sahurnya ntar, biar ga kerja dua kali gitu. Setelah semuanya dirasa sudah siap, ya aku angkat semua ke meja makan. Untuk tinggal dinikmati pas bedug Maghrib berkumandang.

Nah, pas Adzan Maghrib telah kudengar akhirnya aku sesegera mungkin untuk Break Fasting, dengan minum sari jeruk dingin, sebagai penetralisir aja sih, karena kalo langsung yang manis-manis, bisa neg duluan. Dari kesemuanya yang udah aku siapin tadi sebenarnya ada yang kurang sih, dan itu ngaruh banget ke semua yang udah aku persiapkan,karena serasa useless aja sih. Hal itu adalah dengan absennya Nanang di buka puasa pertamaku, dengan alasan satu dan lain hal, dia malah berada di lokasi yang beda pas waktu itu, dia mutusin untuk ke Mal Ambassador untuk beli installer program untuk dia punya laptop. Alasan dia sih,karena cuaca hujan so, rencana ke Ambass jadi mundur, dan untuk buka puasa di rumah jadi ga terkejar. Aku terima aja itu alasan, dengan catatan karena itu situasi diluar dari yang direncanakan. Tapi jangan sampai terjadi kalo kenyataannya diriku lebih penting ketimbang “Laptopnya itu”…. ya betapa unlukcky nya diriku, dan sebaliknya betapa payahnya Nanang.

Tapi kalo dipikir secara mendalam, dengan kondisi seperti itu baiknya sih aku ga banyak kata, dengan begitu setidaknya berdamai dengan diri itu jauh lebih baik dan sangat sulit sih dilakukan, ketimbang hanya ngomelin dia yang juga belum tentu “apakah dia juga ngerasa salah bertindak”. Setidaknya aku sudah melakukan apa yang seharusnya di bulan ramadhan ini, aku sudah berusaha untuk tetap commit pada diri “Lakukanlah segala sesuatu selagi bisa, tanpa harus ada keinginan untuk dinilai”. Dan semoga di Ramadhan ini aku bisa ibadah dengan khusyu’, dan semoga keberkahan dan rejeki senantiasa melingkupi keluargaku selama itu menjadi hak kami. Karena ga baik juga hidup serba berkelebihan tapi masih saja ada keluhan dalam kehidupannya yang ini itu, ga jelas… itu artinya semua kelebihan harta yang dia pegang belum sepenuhnya dia syukurin, Hidup di dunia tidak Gratis, semua ada harganya, dan itu bukan takaran nominal yang dinilai, tapi apa yang dia kerjakan baik ke diri atau orang lain, begitu juga dia akan menerima, mungkin di hal lain dalam kehidupan. Dari Hakikat kehidupan itulah, aku setidaknya menjadi optimis dalam nglewatin ini semua dari hari ke hari, karena aku berani ngomong, bukan berarti ga pernah mengalami dan menyaksikan kenyataan kehidupan, dari situlah fitrah akal dan pikiran kita harus berfungsi untuk mencerna “Petunjuk apa yang aku peroleh ini?”…. Marhabban Ya Ramadhan….dan semoga puasaku lancar…Amien.

Posted in Story | Tagged | 1 Comment

Tahu Bacem (Grilled Marinated Tofu)

 

Bahan :

  1. Bawang Putih 4 siung
  2. Bawang merah 6 butir
  3. Ketumbar 1 sdt
  4. Tahu Putih
  5. Garam
  6. Asam Jawa
  7. Gula Kelapa
  8. Salam
  9. Laos
  10. Air Kelapa, bila tidak ada diganti air biasa

Cara Membuat :

Haluskan bawang putih, ketumbar, dan bawang merah. Rebus dalam air (kira2 banyaknya cukup untuk merendam tahu). Masukkan gula kelapa, asam, garam, daun salam, serta laos yang sudah dikeprek. Masak dengan api sedang hingga bumbu menyatu. Icipi untuk merasakan kurang tidaknya asam, gula, atau garam. Setelah rasa cukup sesuai, masukkan potongan tahu hingga terendam. Lanjutkan memasak dengan api kecil hingga air tinggal sedikit (asat). Goreng tahu dengan sedikit minyak.

Posted in Recipe | Tagged | Leave a comment

The Month Of Fasting Ramadhan

In the Name of Allah, the Most Gracious, the Most Merciful

“Fasting is an act of deep personal worship to God in which Muslims seek to raise their level of God-consciousness.The act of fasting redirects the heart away from worldly activities and towards the remembrance of God.The self-restraint of Ramadan

make the heart and mind accustomed to the remembrance and praise of God and to the obedience of His commandments. Muslims focus during this month on strengthening their relationship with the Creator.”

Ramadan is the ninth month of the Islamic lunar calendar. It begins with the sighting of the new moon after which all physically mature and healthy Muslims are obliged to fast for the complete month. Fasting is done as an act of worship and obedience to Allah (God). Between dawn and sunset, Muslims abstain from all food, drink and any kind of sexual contact. In addition to this

physical component, the spiritual aspects of the fast include an added emphasis on refraining from gossip, lies, obscenity and in general, any sinful act.

God says in the Holy Qur’an: “O ye who believe! Fasting is prescribed to you as it was prescribed to those before you,that ye may (learn) self-restraint…Ramadan is the (month) in which was sent down the Qur’an, as aguide to mankind, also clear (Signs) for guidance and judgment (between right and wrong). So every one of you who is present (at his home) during that month should spend it in fasting…” (Al-Qur’an 2:183,185).

Islam is a continuation of the religion of Abraham, Moses and Jesus (peace be upon them). Hence, it is not surprising to find references to fasting in Judaism and Christianity. Other faiths also enjoin fasting, as they recognize its spiritual benefits. Fasting is thus universally known as a means of gaining self-discipline and of gaining closeness to God. It is the third of the Five Pillars of Islam. The others are declaration of faith (Shahadah), prayer (Salah), charitable-giving (Zakah), and the pilgrimage to Makkah (Hajj). Fasting, together with the other pillars, forms the foundation of the faith.

It instills in the individual a feeling of closeness to God and a desire to do good deeds at all times. Purity of both thought and action are emphasized whilst fasting.The Prophet Muhammad (pbuh)1 is reported to have said: “He who does not desist from obscene language and acting obscenely (during the period of fasting),Allah has no need that he does not eat or drink.”. The Prophet (pbuh) also said: “Fasting is not only from food and drink, fasting is to refrain from obscene (acts). If someone verbally abuses you or acts ignorantly toward you,say (to them) ‘I am fasting; I am fasting.’” It is common to have one meal (known as Suhoor), just before sunrise and another (known as Iftar),directly after sunset. The breaking of the fast (Iftar) usually consists of dates, following the tradition of the Prophet Muhammad (pbuh).Ramadan strengthens the community: Muslims invite one another for the Iftar meals, and there by create concern and friendship among neighbors,families and friends. Many people also take Iftar to the mosque and share it with the wider community,especially the poor and needy.

“Ramadan is a time for spiritual reflection, prayer and doing of good deeds.

Fasting is intended to inculcate self-discipline, self-restraint and generosity.”

Fasting in the month of Ramadan

All Muslims, from the age of puberty who are physically and mentally well should observe fasting during the month of Ramadan. Islam is a practical way of life and does not place hardship on those for whom the fast would be too difficult. The sick and those traveling may defer their fast until their illness or journey is over. Pregnant women and nursing mothers may also postpone the fast. The very old, who are too weak to fast, and those who have a permanent illness that prevents them from fasting,are excused from fasting.They may feed a needy person for every day missed, if they can afford to do so.The mentally ill are also exempt from fasting.

BENEFITS OF FASTING

Fasting is an act of deep personal worship to God in which Muslims seek to raise their level of God-consciousness. The act of fasting redirects the heart away from worldly activities and towards the remembrance of God.Muslims focus during this month on strengthening their relationship with the Creator. It is a time for spiritual reflection, prayer and doing of good deeds.Fasting is intended to inculcate self-discipline, selfrestraint and generosity.

The Prophet Muhammad (pbuh) said, “Indeed, anyone who fasts for one day for Allah’s Pleasure, Allah will keep his face away from the (Hell) fire for (a distance covered by a journey of) seventy years.” “The sleep of a fasting person is regarded as an act of worship, his remaining silent is regarded as glorifying God, the reward for his good deeds is multiplied, his supplications are accepted, and his sins are forgiven.”

Fasting makes the individual more aware of the many bounties of God. The hunger and thirst remind the fasting person of the poor who may rarely eat well. Fasting re-enforces the concept that wasting the Creator’s bounties is a sign of ingratitude to Him.

Muslims are reminded to be extra-generous during the month of Ramadan and to share the bounties that God has provided them, giving generously in charity.Our wealth is regarded as a trust from God, not really our own; will we be greedy with it and spend it only on ourselves, or will we strive to please Him by sharing it with others?

A person who carefully observes the month of Ramadan becomes closer to God.The self-restraint of Ramadan make the heart and mind accustomed to the remembrance and praise of God and to the obedience of His commandments. It is therefore a spiritual regime and a re-orientation process for the body and mind – the extent of the benefit depends on the performance and sincerity of the individual Muslim.

RAMADAN IS THE MONTH OF THE QUR’AN

God began revealing the Qur’an to the Prophet Muhammad (pbuh) during Ramadan in the year 610 C.E. The Holy Qur’an is known undoubtedly as “the most-read book in the world” for it is a book that is so often read, re-read and memorized, and all in its original language,Arabic. In Ramadan, Muslims are encouraged to focus as much time as possible on reading, listening to and understanding the teachings of the Glorious Qur’an. One of the ways Muslims get closer to the Qur’an during Ramadan is through a long congregational prayer known as Taraweeh that is offered in the late evening after the breaking of the fast. During this prayer it is customary that the entire Qur’an is recited over the course of the entire month, by a person called a Hafiz (Arabic, meaning protector).

A Hafiz is someone who has memorized the entire Qur’an, word for word, cover to cover. Since it was first revealed over 1400 years ago it is through the many Huffaz (plural of Hafiz) of the Qur’an that God has protected the authenticity of this Holy Book. Laylat ul-Qadr, or the Night of Power, is a time for especially fervent and devoted prayer, and the rewards and blessings associated with worship on this night are manifold. This night is known to occur during one of the last fewnights of Ramadan, thus the incentive to increase the nightly prayers during this time.

EID-UL FITR

The end of Ramadan is marked by the sighting of the new moon, which is followed by a day of celebration known as Eid-ul-Fitr or the ‘festival of fast-breaking’.Families wake up early in the morning, put on their best clothes and go to the mosque for the Eid sermon and congregational prayers. They thank the Merciful God for having given them the opportunity to experience the blessed month of Ramadan. The day is accompanied by celebration, socializing, festive meals and modest gift-giving especially to children. But before the festivities begin, every person, adult and child, must have already contributed towards Zakat-ul-Fitra. This is the giving of a meal, or cash equivalent, to a needy person to make sure that none are excluded from this happy occasion.

The Eid celebration is not merely about feasting and socializing.There is a deep significance for those who truly observed the holy month with their fasting, abstaining from all bad habits and striving hard to earn the pleasure of God. For the observant, the Merciful Allah has granted Eid as a day for forgiveness of sins. The Muslim is left with a feeling of happiness and joy and a renewed energy to face the rest of the year with faith and determination. Islam teaches that the objective of life is to earn the pleasure of God. The spiritual closeness that can be achieved during the month of Ramadan serves this purpose for those who truly work hard to benefit from it.

Taken from: www.whyislam.org

Posted in Reference | Leave a comment

2nd Anniversary my wedding,No celebrate,No party, No More…

2 tahun lalu di 4 Agustus 2006 jam 08.00 di Jl.Nongkojajar No.6 Purwodadi, Pasuruan dengan Wali Nikah Bapakku yang di wakilkan ke Penghulu Nikah (Kepala KUA), diriku “Yudha Erna Susanti binti H. Doerasim” resmi di nikahi oleh seorang Pria Kelahiran Jember “Nanang Andi Setiawan” dengan mas kawin tersebut tunai…dan Alhamdulillah lancar dan Syah, tanpa harus latihan. Hebat Nang…ga nervous dan sukses.

2 tahun berlalu, dan kini di tahun 2008, tanggal 4 Agustus jatuh di hari Senin, So…seorang Nanang opo yo sempat pake acara anniversary segala. Jawabannya jelas “Ga sempat”. Seperti apa yang ku prediksi jauh-jauh hari, 2nd anniversary itu ga bakal ada yang sedikit special ketimbang hari biasanya, Nothing special dan jauh dari kesan extra ordinary, tapi ya gimana lagi…Namanya orang sibuk dengan kerjaan itu apa bisa disalahkan. Tentunya aku sendiri juga mikir-mikir, apa landasan utamaku untuk protes bahwa itu penting untuk di sempatkan untuk merayakannya bersama, mesti itu sebentar (just a moment please..). Nyatanya juga ga ada yang khusus tuh, yah dia hanya ngucapin “met 2nd anniversary” aja, itupun juga lewat Chat.

Pada dasarnya aku memang ga butuh perayaan khusus sih..sebangsa celebration gitu, seperti sengaja nglewatin berdua di romance place gitu juga ngga kan… pertama juga ga ada waktu dari Nanang, kedua juga terlalu “Kabanyakan Komersiil”, tapi mengingat itu penting, istilah jawa nya “Nenger’i” biar ga lupa dan lewat begitu saja, meskipun itu terkesan simbolis tapi ada benefit nya kok buat hubungan kita berdua, setidaknya buat recharge lah biar jauh lebik baik lagi.

Intinya di 2nd anniversary ini ga ada yang special ritual khusus yang musti di jalanin, padahal maksud hati aku juga pengen sih dapet surprise apa kek…jelek-jelek gini kan aku juga perempuan kan, ya masih pengen lah hal-hal yang berbau special, Moment yang sengaja dikhususkan. Tapi yo piye maneh…semuanya balik lagi ke urusan kantornya Nanang yang byuh…bejibun…akeh banget urusannya, kalah pengusaha HIPMI tapi complain percuma, nuntut juga sama dengan bohong, Mengeluh juga sama dengan ngomong sendiri. So, klo mo happy jadi istrinya orang yang bekerja di tempat kerjaan Nanang atau yang sejenis, emang musti harus sedikit senewen, bikin kegembiraan sendiri, lha klo aku ga mau dibilang senewen sama orang, masih pengen di anggap normal, ya pilihannya hanya diam, lewatin smua, ga banyak komentar, ga banyak heran, ga banyak tanya, ga banyak seneng2 (karena butuh duit banyak tuh..). Istilah paket nya : Paket Hemat Ga Banyak Cakap. Bukan berarti aku suka banget sama kondisi ini, tapi NO MORE….. ga ada pilihan.

2nd Anniversary my wedding No celebrate, No Party, No More………. ga ada pilihan!!!!

Posted in Opiniku | Tagged | Leave a comment

Rawon Komplit

Rawon atau nasi rawon (karena selalu disajikan dengan nasi) adalah menu berupa sup daging dengan bumbu khas karena mengandung kluwek. Rawon, meskipun dikenal sebagai masakan khas Jawa Timur, dikenal pula oleh masyarakat Jawa Tengah sebelah timur (daerah Surakarta).Daging untuk rawon umumnya adalah daging sapi yang dipotong kecil-kecil. Bumbu supnya sangat khas Indonesia, yaitu campuran bawang merah, bawang putih, lengkuas (laos), ketumbar, serai, kunir, lombok, kluwek, garam, serta minyak nabati. Semua bahan ini (kecuali serai dan lengkuas) dihaluskan, lalu ditumis sampai harum. Campuran bumbu ini kemudian dimasukkan dalam kaldu rebusan daging bersama-sama dengan daging. Warna gelap khas rawon berasal dari kluwek. Makanan ini diluar negri dikenal juga dengan nama surbaya beef soup.

 

Bahan:
2 liter air
500 g daging tetelan sapi, potong-potong
3 sdm minyak sayur
1 cm lengkuas, memarkan
1 batang serai, memarkan

Rawon disajikan bersama nasi, dilengkapi dengan tauge kecil, bawang goreng, kerupuk, dan sambal.

Bumbu Halus :
6 buah keluak, ambil isinya
8 butir bawang merah
4 siung bawang putih
2 buah cabai merah
1 cm jahe
11/2 sdt ketumbar, sangrai
2 sdt ketumbar, sangrai
1 sdt gula Jawa sisir halus

Pelengkap:
Toge pendek
Telur asin
Kerupuk Udang
Sambal Terasi
Mentimun

Cara membuat:
# Didihkan air, rebus daging dengan api kecil hingga hampir lunak.
# Panaskan minyak, tumis bumbu halus, lengkuas, serai dan daun jeruk hingga wangi.
# Masukkan ke dalam rebusan daging. Masak kembali hingga daging lunak. Jika perlu tambahkan air panas hingga kuah rawon menjadi 1,5 liter.
# Sajikan rawon dalam keadaan panas bersama Pelengkapnya.

Untuk 8 orang

Catatan:
Sebaiknya rawon diolah sehari sebelum dihidangkan agar aroma dan bumbu meresap sempurna.

Posted in Recipe | 1 Comment